Oleh: Novriza Rahman | September 15, 2011

Mempertanyakan Kualitas Wim

Wim Rijsbergen mengeluhkan postur tubuh. Jangan melatih Indonesia kalau begitu, ukuran tubuh kita ya memang segini. Wim Rijsbergen mengaku timnas bukanlah timnya.

Bukankah dia sudah setuju tandatangan kontrak untuk menangani tim ini? Dia digaji bukan untuk mencari kambing hitam.

Ocehan teman- teman sesama pecinta timnas Indonesia, menyayangkan sikap Wim yang seolah lepas tanggung jawab.

Firman Utina, via akun twitternya, merasa seperti anak ayam kehilangan induknya. Tak seharusnya Firman merasa seperti anak ayam, timnas lebih pantas disebut anak Garuda karena perjuangan mereka.

Tapi ketika Wim menyalahkan pemain-pemainnya sendiri, berkata mereka tidak pantas bermain di level internasional, Firman meresponnya dengan polos: “Seharusnya kita cari solusinya sama-sama, menir”.

Indonesia yang punya antusiasme begitu besar di olahraga sepakbola, masih belum bisa tersenyum lebar menunjukkan giginya. Jangankan gigi seri, gigi taringnya pun masih tumpul.

Fans sepakbola di seluruh Indonesia, rela sibuk membicarakan permasalahan. Mencari siapa yang salah, sama halnya seperti perlombaan tanpa garis finish. Semua ingin mencari solusi, tapi hanya bisa memendam dalam hati. Paling banter, hanya ngobrol dengan sesama pecinta timnas. Saya tidak sedang ingin membahas petasan. Saya cuma membahas Wim Rijsbergen, dan saya menyebutnya sebagai buah arogansi pengurus baru PSSI.

Wim Rijsbergen Wim adalah pemain timnas Belanda di Piala Dunia 1974 (runner-up) dan 1978. Sebagai pelatih, karir terbaiknya adalah menjadi asisten Leo Beenhakker di Piala Dunia 2006 bersama Trinidad & Tobago. Kedatangan Wim menggantikan Alfred Riedl, dirancang untuk menjadi penyegar. Pengurus baru PSSI memutus kontrak Riedl sepihak, cuma gara-gara dia ‘dibawa’ oleh pengurus lama.

Catatan Wim memang lebih mentereng daripada Riedl, tapi pengetahuannya tentang sepakbola Indonesia ternyata tidak sebaik Riedl. Tidak banyak yang tahu, Wim punya pengalaman buruk di PSM Makassar. Di PSM Wim selalu mengancam meninggalkan klub saat PSM kalah dari lawan-lawannya. Bahkan Wim sejak awal mengeluhkan para pemain PSM yang menurutnya tidak sesuai standar pemain sepakbola.

Sebelum dipecat, dia mengajukan surat pengunduran diri. Dan sekarang, Wim Rijsbergen adalah pelatih timnas kita….!!!

Cek wikipedia, catatannya di Trinidad & Tobago pun juga tidak mulus. Desember 2007, posisinya sebagai pelatih diberhentikan sementara waktu oleh Federasi sepakbola Trinidad & Tobago selama 6 bulan, sampai akhirnya digantikan pada 4 Juni 2007. Sayang, saya tidak menemukan permasalahan detilnya. Kritik untuk Wim Sama sekali tidak ada maksud memojokkan Wim, atau menyalahkan Wim sepenuhnya. Cuma satu yang paling disayangkan, sikap dan komentar negatifnya saat tim sedang kalah.

Lihat Jose Mourinho, dia tidak pernah sekali pun menyalahkan pemain-pemainnya sendiri. Wim melakukannya di PSM dan kini di Timnas Indonesia. Kalau Wim cuma mau jadi pelatih tim yang fisiknya gagah menjulang dan penuh pemain berkelas, silakan ajukan surat lamaran ke Timnas Belanda saja.

Sungguh Ironi jika keluhan Wim tentang postur tubuh, justru dibantah oleh pelatih Bahrain. “Saya tidak setuju. Gol pertama dicetak pemain 19 tahun yang tidak terlalu tinggi. Ia menusuk dari sisi lapangan ke dalam kotak penalti. Gol kedua juga terjadi dari hasil umpan terobosan,” kata Peter Taylor. Kata teman saya, kekalahan dari Bahrain lebih parah daripada lawan Iran (0-3), karena 2 gol Iran cuma terjadi lewat set- piece.

Kangen Riedl?
Euforia Piala AFF memang masih terasa. Maka ketika nama ‘Alfred Riedl’ mendadak jadi trending topic dunia di twitter, itu bukan sebuah kebetulan. Wim terlalu bernafsu menyerang, padahal itu tidak sesuai dengan fisik pemain Indonesia. Beda dengan Riedl, dia main lebih tenang.

Di era Riedl, umpan-umpan panjang juga diselipkan, tapi sebelumnya menarik pemain lawan maju ke depan sehingga ada ruang kosong yang mampu dimanfaatkan pemain sayap. Analisa subjektif setiap fans berbeda, anda boleh punya pendapat berbeda.

(Jujur saja……), dengan Riedl mungkin juga sulit. Mungkin substansi lebih tepatnya, kenapa harus mengganti Riedl di tengah jalan? Kenapa gara-gara revolusi organisasi, timnas juga ikut dirombak? Mengganti pelatih yang sudah mengenal pemain Indonesia, dengan pelatih yang bahkan tidak menyukai pemain Indonesia?

Tanyalah kepada duo Arifin. Sekali lagi, buah arogansi pengurus baru PSSI.

Baiklah Wim… Bekerjalah.

Lupakan Riedl. Rasanya mustahil Riedl kembali, PSSI menelan ludahnya sendiri itu tidak mungkin. Sekarang Wim ingin memilih sendiri pemain-pemainnya. Namun Wim harus tahu, jika dia mau postur yang lebih tinggi dari skuad sekarang, cuma ada pemain naturalisasi. Jika dia mau memantau sendiri pemain pilihannya, dia tidak punya banyak waktu, cuma bisa mengirim scout.

Ketua Umum baru, pelatih baru, dan PSSI kini sedang membuat liga baru. Liga baru ini baru dijadwalkan mulai 8 Oktober. Sementara tanggal 11 Oktober kita sudah harus menjamu Qatar, 11 November bertandang ke Qatar. Lagi- lagi, Wim berpotensi punya kambing hitam tentang pemain pilihannya. Dengan situasi seperti ini, apakah pantas disebut pesimis jika kita membayangkan posisi juru kunci.

Siapapun pelatihnya….!!!!

Siapapun pelatihnya….!!!!

Siapapun pelatihnya….!!!!

Siapapun pelatihnya….!!!!

Siapapun pelatihnya….!!!!

Siapapun pelatihnya….!!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: