Oleh: Novriza Rahman | Juni 6, 2011

Bakat & Emosi

Kemarin malam, seperti biasanya di hari libur saya menyempatkan diri untuk membaca buku-buku yang memang sudah saya siapkan untuk mengisi waktu luang selepas sholat Maghrib. Salah satunya adalah BEPE20 Ketika Jemariku Menari (Emang ngidolain BePe kali.. hehe). Dan ketika melintas di depan tivi, saya yang sedang menenteng buku tersebut, mendadak berhenti dan terpaku menonton siaran sepakbola, karena melihat sebuah advertise board di pinggir lapangan bertuliskan “Final U-21”. Wow, final? Berarti mereka adalah 2 tim terkuat sekaligus putra-putra pilihan dong? Patut ditonton kalo begitu.

Jujur saja, selama jalannya pertandingan, saya selalu menggelengkan kepala. Kenapa? Lehernya pegal? Bukan, tetapi mencermati permainan dari kedua kesebelasan yang masih berusia belia. Hanya sesekali saja, saya dibuatnya sedikit semangat untuk menyambut datangnya sebuah gol, namun sayangnya semangat saya itu harus selalu ditutup dengan gelengan kepala. Penguasaan emosi serta nafsu yang belum di manage dengan baik oleh setiap individu, terkesan menjadikan laga ini seperti milik pribadi, bukan tim.

Semen Padang vs Persela Lamongan U-21. Bertanding di stadion Brojonegoro Sumantri, Jakarta Selatan, tentu agak sedikit membingungkan. Pasalnya, Jakarta memiliki stadion yang cukup capable untuk menggelar partai-partai liga junior, stadion Lebak Bulus namanya. Menurut saya, standarisasi lapangan Brojonegoro Sumantri hanya layak untuk menggelar partai liga Mahasiswa, tentu tanpa mengecilkan arti dan sejarah stadion tersebut. Karena, ini adalah partai final, partai puncak yang diharapkan dapat menjadikan tontonan serta hiburan dihari libur bagi masyarakat Indonesia, terlebih lagi memang partai ini disiarkan secara langsung.

Semen Padang junior, bermain mengandalkan serangan cepat yang dibangun dari lini belakang. Namun hal ini kurang efektif, meskipun telah melahirkan beberapa peluang. Alhasil Semen Padang pun harus puas menduduki peringkat dua. Sementara Persela Lamongan, yang sukses menjuarai ajang ini, berhasil memainkan tempo dengan baik. Unggul cepat berkat tandukan dari Eky Taufik, Persela kian di atas angin. Dan di babak kedua mendapatkan hadiah penalti dari wasit hingga pertandingan pun berakhir 2-0. Dan sebuah selebrasi unik saat terciptanya gol kedua, yakni sebuah selebrasi yang menirukan gaya seorang pelatih tengah memaki anak-anak asuhnya… hahaha jago juga mereka akting layaknya pemain sinetron…

Saya mencermati satu pemain dengan tipikal petarung yang didukung dengan stamina yang cukup prima, Yoshua Pahabol. Pemain asal Timur Indonesia ini, mampu menarik perhatian Nil Maizar (pelatih Semen Padang senior). Sebuah jalan untuk menempuh masa depan sudah terbuka lebar untuk Pahabol. Selama pertandingan, Pahabol selalu fight dengan seluruh kemampuannya, berani berduel dengan 1 sampai 2 orang pemain belakang Persela. Tak jarang pula pergerakannya menghasilkan peluang emas. Mungkin pemain inilah yang akan menggantikan peran Ellie Aiboy di sayap kanan Semen Padang. Memang Pahabol masih jauh dari Ellie Aiboy, jiwa mudanya masih menguasai dirinya secara penuh. Emosi dan nafsu yang tak terbendung membuat Pahabol harus meninggalkan lapangan terlebih dulu, karena sebelumnya, telah diusir oleh wasit alias kartu merah. Antara bakat dan emosi belum bisa dikuasai. Namun untuk semua pemain-pemain muda, ingatlah selalu kata-kata Bambang Pamungkas : “Jangan pernah berhenti bermimpi, karena mungkin suatu saat mimpi itu akan menjadi nyata”!

Semangat terus atlet-atlet junior! Semoga persepakbolaan Indonesia semakin maju! Selamat untuk Persela Lamongan U-21 yang keluar sebagai juara…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: