Oleh: Novriza Rahman | Mei 13, 2011

Filosofi Kiper

oleh Doni Ex pada 29 April 2011 jam 10:29
Tahukah anda bahwa pekerjaan sebagai penjaga gawang terdapat FILOSOFI yang bisa dipakai dalam mengarungi kehidupan ini. Sepertinya sih bukan karena saya jago atau sejenisnya haha🙂 tapi entahlah, pokoknya saya cukup bangga menjalani peran yang satu ini kalau sedang masuk ke lapangan untuk main sepakbola.

Bicara tentang penjaga gawang, tentu ingat Genzo Wakabayashi. SGGK yang super-sakti ini, konon katanya, gawangnya tidak bisa dibobol oleh HERCULES atau bahkan CHUCK NORRIS sekalipun.
Nah. Sebagaimana lazimnya banyak hal lain dalam kehidupan ini, saya juga belajar bahwa menjadi penjaga gawang alias kiper juga ada filosofinya. Tentu saja, kita harus bisa melihat makna yang lebih dalam dari segala sesuatu, bukan begitu..?

APA SAJA FILOSOFI TE ES BE…??

1. TIDAK PERLU DIKEJAR, TUNGGU SAJA
Untuk beberapa kasus, tidak selalu harus kita yang berusaha dalam mengejar sesuatu di dunia ini. Kadang-kadang, kalau menggunakan filosofi seorang penjaga gawang, justru apa-apa yang tidak (perlu) dikejar akan datang sendiri kepada kita. Saya dan seorang rekan pernah ‘berdebat’ soal ini.

“nggak perlu begitu,” kata saya. “tunggu saja, hal kayak begitu bakal datang sendiri, kok.”

“Bro, perumpamaannya begini, nih. Kalau main bola tuh ya, bolanya satu, yang ngejar dua puluh dua! Kalau nggak ngejar, gak bakal dapet bolanya!” Rekan saya menukas.

“gak masalah. Bolanya bakal dateng sendiri, kok… karena gw kipernya.”

Seorang penjaga gawang tidak perlu sampai berkorban semangat (apalagi sampai rela di-tackle oleh pemain lawan) untuk sekadar merebut bola. Itu sih kerjaan rekan-rekan anda yang jadi df, mf, atau fw! Sudah, biarkan saja, itu urusan mereka. Seorang penjaga gawang punya cara sendiri soal merebut bola.

Tidak perlu susah payah merebutnya, akan ada saatnya ia datang ke hadapan anda: pada saat tersebut, anda hanya perlu melakukan hal yang tepat di tempat yang tepat pada saat yang tepat; dan tahu-tahu, jatuh deh ke pelukan anda…… bolanya, maksudnya.

2. SENDIRIAN, TIDAK, SENDIRIAN
Seorang penjaga gawang bisa berharap kepada rekan-rekannya, terutama di barisan df. Mereka seharusnya akan bahu-membahu dengan anda dalam menjaga gawang tim… kalau mereka tidak sedang keasyikan membantu serangan, sih. Lho, lothar matthaeus yang dulu jadi libero di tim nasional jerman saja sering sekali naik ke daerah pertahanan lawan, kok.

Kadang-kadang, ada juga saat-saat di mana ada seorang striker lawan laknat yang mencoba dan berhasil melewati rekan-rekan df anda. Pada saat-saat paling kritis tersebut, anda sendirian. Jangan berharap dibantu orang lain, sebab anda adalah orang terakhir yang diharapkan oleh tim!

Pesan moralnya? Anda mungkin memang tidak pernah benar-benar sendirian. Ada rekan-rekan satu tim, atau mungkin teman-teman yang anda miliki. Tapi dalam saat-saat paling kritis? Anda sebenarnya sendirian, dan semua tergantung kepada keputusan anda.

Tidak selalu sih, kadang-kadang ada juga rekan satu tim yang dengan tiba-tiba berada di belakang anda dan mencegah gawang anda kebobolan. Sayangnya, hal ini jarang terjadi, dan orang-orang seperti ini biasanya langka… baik di atas lapangan sepakbola maupun dalam kehidupan nyata.

3. ORANG PENTING YANG TIDAK POPULER
Coba ya, berapa banyaknya pemain terkenal yang menghiasi headline surat kabar setelah piala dunia atau liga champions? Berapa banyaknya pemain yang dibicarakan oleh para penonton menjelang pertandingan? Dan apa posisi mereka?

Biasanya, fw. Paling bagus, mf. Kadang-kadang df, tapi ini jarang. Tapi, mana ada yang membicarakan gk alias penjaga gawang?

‘sedihnya’ lagi, walaupun (biasanya) menggunakan kostum dengan nomor ’1′ di punggung, tetap saja seorang penjaga gawang cenderung susah sekali untuk jadi terkenal. Bandingkan, misalnya, dengan ‘orang populer yang tidak penting’ semacamnya mf atau fw yang mabuk-mabukan dan punya pacar seorang model dan disorot media ke mana-mana.

Tapi, begitu masuk ke starting line-up, seorang penjaga gawang biasanya tidak tergantikan… kecuali kalau cedera atau terkena kartu merah. Kalau dihitung dari rata-rata waktu main, anda akan menemukan bahwa penjaga gawang adalah posisi dengan rata-rata waktu main yang paling panjang – jarang sekali ada yang menggantikan mereka di tengah pertandingan.

See, tidak selalu bahwa ‘terkenal’ berarti ‘penting’. Anda tidak perlu terkenal kok untuk jadi orang penting. Anda tidak perlu tampang ganteng atau jago membuat sensasi atau sejenisnya, untuk menjadi seseorang yang penting dan bisa diandalkan oleh seseorang di sisi anda… atau lebih banyak lagi orang, terserah anda.

4. KEKERASAN TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH
Berani mencoba melanggar pemain lawan di kotak penalti?

Tim anda akan diganjar hukuman tembakan penalti. Tambahan, anda mungkin akan dicela-cela oleh penonton untuk itu. Berani mencoba melanggar pemain lawan di luar kotak penalti? Anda akan langsung diganjar kartu merah untuk itu, tanpa kecuali.

Yang manapun, tidak ada yang bagus untuk anda. Kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah, baik di atas lapangan maupun di dunia nyata. Di dunia ini, orang yang pertama kali mengeluarkan tinjunya adalah orang yang kalah, dalam hampir segala hal… yah, kecuali untuk pertandingan tinju, sih.

Tidak percaya? Bisa dicoba, tapi sebaiknya jangan. Anda sedang berdebat dengan atasan anda… atau Kepala Bagian anda, misalnya. Lalu anda naik darah, dan secara emosional tiba-tiba menggebrak meja seiring emosi yang memuncak. Setelah itu, anda pergi dengan rasa sombong-yang-menyebalkan dari ruangannya…… anda merasa menang?

Salah besar, anak muda.

5. KALAU KEBOBOLAN, YA SUDAH
Dan ini hal yang sangat penting. Setelah berusaha sekuat tenaga-dan-pikiran-dan-teknik, mungkin saja bahwa ternyata anda masih saja dikerjai oleh striker lawan. Dan gawang anda pun kebobolan.

Pengalaman saya: lupakan saja. Dan ternyata, demikian juga yang dikatakan oleh David Seaman.

Mau striker lawan anda goyang-goyang samba ala Kaka atau malah flamenco gaya Raul Gonzales sebelum membobol gawang anda, lupakan saja. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan soal itu, kan? Jangan dipikirkan. Sekalipun gol itu hasil blunder yang memalukan dari anda, jangan pikirkan sampai pertandingan selesai.

Gampangnya begini. Kalau mau hidup bahagia, jangan memikirkan sesuatu yang tidak menyenangkan dan sudah lewat dan tidak bisa diapa-apakan lagi. Kalau sudah terjadi, ya sudah. Mungkin salah teknik, atau salah keputusan, atau apalah-itu, tapi tidak banyak gunanya tenggelam dalam depresi soal itu.

Contohnya? Banyak. Ujian jelek? Ngapain dipikirin! Sudah lewat, kok.

Ditolak cewek? Ya, ya, boleh sedih, tapi jangan lama-lama.

Pasangan anda selingkuh? Sudah, putusin aja! Tapi jangan depresi lama-lama.

Hidup harus jalan terus. Kalau di atas lapangan sepakbola, minimal sampai pertandingan berakhir.

Karena, yah, untuk seorang penjaga gawang, itu berbahaya. Sekali seorang penjaga gawang tidak bisa melepaskan kejadian akan sebuah gol, maka habislah tim tersebut. Mau berapa gol lagi yang tercipta? Pada saat itu, mungkin sudah sangat terlambat.

6. DUNIA TIDAK SEMPURNA, MUNGKIN ANDA DIKERJAI
Ya, ini mungkin saja. Mungkin saja anda sudah latihan dengan sebaik-baiknya, lalu percaya diri dengan kemampuan anda… dan tahu-tahu, seorang striker anak bawang bisa mengerjai anda dan mencetak sebuah gol yang cantik gak mutu ke gawang anda. Menyebalkan, dan kadang terjadi.

Mungkin juga tiba-tiba rekan-rekan df anda tidak bertindak seperti perintah anda saat membuat pagar betis, dan sebagai akibatnya bola hasil tendangan bebas menerobos masuk dengan gampangnya ke gawang anda. Mungkin juga kadang-kadang anda melihat fw lawan ‘mendadak jatuh dengan mulus’ dan tiba-tiba anda harus berhadapan dengan tendangan bebas atau malah penalti.

Ya, ya. Dunia tidak sempurna, mungkin anda dikerjai. Bahkan di dunia nyata, setelah semua yang anda lakukan, anda masih saja bisa dikerjai oleh keadaan, kan?

Hoh – oh, sometimes you just got punked…. ujjar

RRRRDDD


Kategori

%d blogger menyukai ini: